Pemeran :
Abdi (Aab)
Ibu Aab
Tiara (teman Aab)
Cici (manager Aab)
Fahri (wartawan)
Narrator : Aab itu lah bocah yang menjadi
kebanggaan kampungnya sebagai captain team sepak bola di kampung Cibadut . dia
anak yang Baik dan Soleh serta patuh kepada orang tuanya . Suatu hari ada
sebuah klub sepak bola yang akan mengadakan seleksi untuk menjadi TIMNAS sepak
bola.
“Diruang tamu”
Aab : “bu, aku mendapat
kesempatan bagus. Aku di berikan tawaran untuk masuk kedalam TIMNAS” (dengan perasaan senang sambil duduk )
Ibu : “Benarkah? Selamat ya
nak. Akhirnya kau bisa menggapai cita-citamu” (sambil menepuk pundak Aab)
Aab : “iya bu, aku sangat
senang sekali” (mimik senang)
Ibu : “jadi, apa rencanamu
kedepan nak?”
Aab : “lusa aku akan
berangkat kejakarta “ (dengan tegas)
Ibu : “Apa… lusa??? (dengan
terkejut dan perasaan sedih) apa kamu sudah memikirkannya lagi?” (dengan nada
yang lambat)
Aab : “ya bu, mohon izinkan
aku” (memohon sambil berlutut dan memegang tangan ibunya)
Ibu : “ya anakku, do’a ibu
akan selalu menyertaimu”
Narator : malam harinya ibu Aab merenung
di kamar dengan perasaan sedih bercampur bangga
Ibu : (ditengah panggung)
“ya Tuhan, jagalah anakku , mudah-mudahan ini keputusan yang terbaik untuknya”.
Narrator : keesokan harinya
Tiara : “Assalammu’alaikum”
Ibu :”waalaikum salam.
Masuk nak, ada apa?” (membuka pintu dan tersenyum)
Tiara : “ah, tidak apa-apa bu,
saya hanya ingin menyampaikan titipan ibu saya, ini ada sedikit makanan”
(sambil memberi makanan yang di bawa)
Ibu : “oh,, terima kasih
nak “ senyum dan mengambil makanan yang Tiara bawa)
Tiara :”oh iya bu, dengar-degar
Aab akan ke Jakarta, apa benar?” (bertanya dengan sedikit penasaran)
Ibu : “iya, dia diterima
menjadi anggota TIMNAS”
Tiara : “wah hebat sekali dia,
apakah ibu akan ikut?” (tiara menanyakan lagi dengan penasaran)
Ibu : “tidak, ibu akan
tetap disini menunggu ia pulang” (suasana pun berubah menjadi haru dan suara
ibu pun menjadi agak lemas)
Tiara :”tega sekali dia bu,
kenapa dia tidak mengajak ibunya sendiri?” (agak sedikit kesal)
Ibu : (hanya terdiam dan
menunduk)
Narrator : kemudian Aab tiba-tiba keluar
dari kamar
Aab : (keluar dari kamar)
“apa pedulimu Tiara. Ibu ku tidak ikut kejakarta karena keinginananya sendiri,
yak an bu?” (saut Aab)
Ibu : (hanya mngangguk)
Tiara : “ah, tidak mungkin” (
sedikit kesal)
Aab : “ah sudah lah, bilang
saja kalau kamu iri denganku, iya kan!” (sambil mengangkat leher dengan
sombongnya)
Tiara :”astagfirullah, Ab aku
tidak seburuk itu (sedih) kalau begitu saya permisi dulu bu” (pergi pulang)
Ibu : “iya nak hati-hati, oy omongan Aab tadi jangan kamu
masukin dalam hati ya, dia memang begitu orangnya.
Di depan pintu, kemudian
masuk.
Ibu : “Aab jangan begitu
dengan teman mu sendiri, itu tidak baik”
Aab : “ah, ibu!” (masuk
kamar sambil membanting pintu)
Narator : hari keberangkatan Aab pun
tiba. Terlihat ibu bersama tiara mengantar Aab ke terminal
Aab :” ibu do’akan anak mu ini ya” (menyambut tangan ibu dan
bersalaman)
Ibu : “iya nak” (tersenyum
tipis)
Tiara :” hati-hati kawan, semoga
kamu pulang dengan membawa kesuksesan yang besar” (support dan menjabat tangan)
Aab : (melambaikan tangan.
Keluar panggung)
Di Jakarta
Aab : “Jakarta im coming …. J
Sesampai di Base camp.
Cici : “kenalkan nama saya
cici, saya yang akan membantu kamu selama di Jakarta ini. Jika ada sesuatu
silahkan tanyakan langsung kepada saya.” (senyum centil dan genit)
Aab : “oke, terima kasih”
(tersenyum dengan gaya cool nya)
Cici : “ini jadwal latihan
dan pertandingan kamu(member kertas) ini untuk jadwal kamu sebulan kedepan.
Silahkan tanda tangani kontrak ini” (member berkas dan pena)
Aab : “baik, terima kasih
mbak”
Cici :” terima kasih melulu
dari tadi,oh ya jangan panggil saya mbak , panggil nama sajabiar lebih akrab”
(tersenyum)
Aab : “oke mba, uupps cici
masudnya, hehe”
Cici : “ada yang ingin di
tanyakan?”
Aab :”oh tidak, saya rasa
cukup”
Cici :”oh ya, selama kamu
terikat kontrak kamu dilarang pergi kemanapun, apalagi ke kampung halamanmu.”
Aab :”baik”
Narrator : setahun berlalu. Aab kini sudah
menjadi pemain yang sangat terkenal. Berbagai iklanpun telah di bintanginya,
hingga suatu saat di apartementnya Aab di temui Ibu da Tiara.
Tiara :(mengetuk pintu)
Aab :”sebentar…! Tiara!”
Tiara : “iya ini aku Tiara bersama
Ibumu”
Ibu :”iya nak, ibu kangen
sekali dengan mu “ (perasaan kagum dan rindu)
Aab :”ngapain kalian kesini?
Uang yang aku kirimin kurang?” (dengan sombongnya)
Ibu :”tidak nak,,,”
(terkejung melihat anaknya seperti itu)
Tiara :”kapan kamu pulang Aab?”
Aab :”nanti”
Ibu :”kapan… apa kesuksesan
ini masih kurang?” (menatap wajah anaknya)
Narrator : tiba-tiba cici datang dengan
seorang wartawan
Cici : (masuk) “Aab…!”
Fahri : “dimana kita bisa
melakukan wawancara” (sopan dan terkagum)
Cici :”di dalam saja, ayo
masuk masuk” (membuka pintu)
Narrator : cici dan fahri tersentak kaget
ketika melihat wanita paruh baya dan perempuan yang berada di depannya
Cici :”Aab ! siapa ini,
bukannya saya sudah bilang kalau hari iniada jadwal wawancara dan kamu tidak
boleh memasukkan siapapun kesini” (dengan nada yang kesal dan marah)
Aab :”masalah ini biar aku
yang urus Ci (dengan sombongnya) Ibu, Tiara sebaiknya kalian pulang “ (bicara
dengan tegas)
Tiara :”tega kamu ab” (langsung
pergi)
Narrator : dengan perasaan sedih Ibu dan
Tiara pun pergi tanpa menghiraukan mereka, sementara ibu menangis sambil di
peluk oleh tiara Wawancara pun dimulai.
Cici :”silahkan mas fahri,
kita mulai wawancaranya”
Fahri :”baik mas Aab , apa yang
anda rasakan setelah mendapatkan kesuksesan ini?”
Aab :”tentunya sangat
senang, apa lagi saya belum pernah sama sekali merasakan hal yang seperti in”
(sok cool)
Fahri :”apa rencana anda untuk
kedepannya?”
Aab :”tentunya menjadi
pemain yang profesional dan lebih baik lagi” (mengangkat bahu)
Fahri :”bisa anda ceritakan sedikit
tentang kehidupan anda?”
Aab :”saya memiliki Ibu di
kampung, ya itu saja saya kira cukup”
Fahri :”hanya itukah? Kenapa Ibu
anda tidak anda bawa dan tinggal bersama anda?”
Aab :”maaf , bukan urusan
anda…!” (keluar)
Cici :”maaf mas, tidak usah
di teruskan dia memang orangnya seperti itu, sudah lama ia tidak pulang”
Fahri :”oh begitu, baiklah
terima kasih mbak Cici”
Narrator : setelah wartawan pulang terjadi
perbincangan antara Cici dan Aab.
Cici :”Ab, tadi ibu kamu?”
Aab :”iya!”
Cici :”kenapa kau tidak bilang!
Padahal banyak waktu libur yang kamu sia-siakan”
Aab :”alah gak penting, uang
juga udah aku kirimin tiap minggu, mereka gak mungkin kekurangan kok”
Cici :”tapi dia Ibu kamu
Ab!”
Aab :”ah, capek aku Ibu Ibu
Ibu terus, aku mau keluar. Gak usah cari aku.”
Narrator : keesokan harinya Aab belum
pulang
Telepon berdering Tiara mengabarkan
bahwa ibu Aab sedang sakit keras.
Kring…..!
Cici :”hallo…”
Tiara :”ya, hallo. Bisa bicara
dengan Aab?”
Cici :”maaf… Aabnya belum
pulang! Ini siapa ya?
Tiara :”ini tiara, teman Aab
dari kampung, Aabnya kemana ya?”
Cici :”gak tau, dari semalem
dia belom pulang”
Tiara :”yaudah bilangin aja sama
Aab kapan dia pulang? Ibunya sakit keras, terima kasih sebelumnya”
Cici :”baik” (menutup
telepon)
Narrator : cici langsung berkemas
tiba-tiba Aab pulang
Cici :”Ab segeralah
berkemas, pulanglah kau”
Aab :”buat apa?mereka minta
duit, kirimkan saja!”
Cici :”ibumu sakit keras,
pulanglah.”
Aab :”apa!!!”
Narrator : mendengar Ibunya sakit Aab pun
langsung ke kampung dengan di temani Cici
Sementara di kampung terdengar dari
dalam rumah suara batuk keras. Tiara pun langsung masuk kedalam rumah dan
melihat ibu sudah berbaring dan menangis
Ibu :”tiara tolong
sampaikan kepada anakku, sepertinya aku tidak tahan lagi menahan sakit ku ini”
(sambil menangis)
Tiara :”jangan bicara seperti
itu B, Ibu pasti sembuh, ayo bertahanlah Bu.” (sambil sedih dan meyakinkan)
Ibu :”sampaikan saja salam
ibu kepada Aab ketika ia pulang nanti, terima kasih nak telah menemani ibu
selama ini” (sambil terbatuk dan menarik nafas panjang kemudian meninggal)
Tiara : (berteriak dan
memanggil) “Ibuuu……….!!”
Narrator : tiba-tiba terdengar suara
hentakan pintu
Aab : (berteriak) “Ibuuuuu…”
Tiara :”Aab…..”
Aab :”Ibu kenapa Tiara?
Apakah ibu….” (langsung berlari ke kamar
dimana ibu terbaring dan tak bernyawa lagi)
"Maafkan aab ibuu....... (didepan jasad ibunya) maafkan aab. Aab telah salah besar sama ibu..... Bahkan aab pun tak bs memaafkan diri aab sendiri.... maafkan aab buu :'( " (menagis dan meratap)
Cici : (berusaha menenangkan
Aab) “sudahlah jangan disesali lagi, iklaskan saja Ibumu”
Created by :
1. Dian Amsari Meilani
2. Rizky Abdiansyah
3. Tiara Febriyanti
4. Wayan Yuni
5. Suci Mayangsari
XII IPS 3 SMA Negeri 15 Palembang t.p 2012/2013
bagi alamat fb nya dong.. :D
BalasHapusfollow blog saya inii dulu ya :)
BalasHapusfb : Dian A Meilanie
apa kabar?? masih aktifkah kamu di dunia maya??
Hapus:)
hamdalah, masih ^_^
Hapus