Senin, 12 November 2012

Naskah Drama | Pemain Sepak bola yang Sombong


Pemeran :

Abdi (Aab)

Ibu Aab

Tiara (teman Aab)

Cici (manager Aab)

Fahri (wartawan)



Narrator               : Aab itu lah bocah yang menjadi kebanggaan kampungnya sebagai captain team sepak bola di kampung Cibadut . dia anak yang Baik dan Soleh serta patuh kepada orang tuanya . Suatu hari ada sebuah klub sepak bola yang akan mengadakan seleksi untuk menjadi TIMNAS sepak bola.

“Diruang tamu”
Aab                        : “bu, aku mendapat kesempatan bagus. Aku di berikan tawaran untuk masuk kedalam TIMNAS”  (dengan perasaan senang sambil duduk )
Ibu                         : “Benarkah? Selamat ya nak. Akhirnya kau bisa menggapai cita-citamu” (sambil menepuk pundak Aab)
Aab                        : “iya bu, aku sangat senang sekali” (mimik senang)
Ibu                         : “jadi, apa rencanamu kedepan nak?”
Aab                        : “lusa aku akan berangkat kejakarta “ (dengan tegas)
Ibu                         : “Apa… lusa??? (dengan terkejut dan perasaan sedih) apa kamu sudah memikirkannya lagi?” (dengan nada yang lambat)
Aab                        : “ya bu, mohon izinkan aku” (memohon sambil berlutut dan memegang tangan ibunya)
Ibu                         : “ya anakku, do’a ibu akan selalu menyertaimu”

Narator                : malam harinya ibu Aab merenung di kamar dengan perasaan sedih bercampur bangga
Ibu                         : (ditengah panggung) “ya Tuhan, jagalah anakku , mudah-mudahan ini keputusan yang terbaik untuknya”.

Narrator               : keesokan harinya
Tiara                      : “Assalammu’alaikum”
Ibu                         :”waalaikum salam. Masuk nak, ada apa?” (membuka pintu dan tersenyum)
Tiara                      : “ah, tidak apa-apa bu, saya hanya ingin menyampaikan titipan ibu saya, ini ada sedikit makanan” (sambil memberi makanan yang di bawa)
Ibu                         : “oh,, terima kasih nak “ senyum dan mengambil makanan yang Tiara bawa)
Tiara                      :”oh iya bu, dengar-degar Aab akan ke Jakarta, apa benar?” (bertanya dengan sedikit penasaran)
Ibu                         : “iya, dia diterima menjadi anggota TIMNAS”
Tiara                      : “wah hebat sekali dia, apakah ibu akan ikut?” (tiara menanyakan lagi dengan penasaran)
Ibu                         : “tidak, ibu akan tetap disini menunggu ia pulang” (suasana pun berubah menjadi haru dan suara ibu pun menjadi agak lemas)
Tiara                      :”tega sekali dia bu, kenapa dia tidak mengajak ibunya sendiri?” (agak sedikit kesal)
Ibu                         : (hanya terdiam dan menunduk)
Narrator               : kemudian Aab tiba-tiba keluar dari kamar
Aab                        : (keluar dari kamar) “apa pedulimu Tiara. Ibu ku tidak ikut kejakarta karena keinginananya sendiri, yak an bu?” (saut Aab)
Ibu                         : (hanya mngangguk)
Tiara                      : “ah, tidak mungkin” ( sedikit kesal)
Aab                        : “ah sudah lah, bilang saja kalau kamu iri denganku, iya kan!” (sambil mengangkat leher dengan sombongnya)
Tiara                      :”astagfirullah, Ab aku tidak seburuk itu (sedih) kalau begitu saya permisi dulu bu” (pergi pulang)
Ibu                         : “iya nak  hati-hati, oy omongan Aab tadi jangan kamu masukin dalam hati ya, dia memang begitu orangnya.
Di depan pintu, kemudian masuk.
Ibu                         : “Aab jangan begitu dengan teman mu sendiri, itu tidak baik”
Aab                        : “ah, ibu!” (masuk kamar sambil membanting pintu)

Narator                : hari keberangkatan Aab pun tiba. Terlihat ibu bersama tiara mengantar Aab ke terminal

Aab                        :” ibu do’akan anak  mu ini ya” (menyambut tangan ibu dan bersalaman)
Ibu                         : “iya nak” (tersenyum tipis)
Tiara                      :” hati-hati kawan, semoga kamu pulang dengan membawa kesuksesan yang besar” (support dan menjabat tangan)
Aab                        : (melambaikan tangan. Keluar panggung)

Di Jakarta
Aab                        : “Jakarta im coming …. J
Sesampai di Base camp.
Cici                         : “kenalkan nama saya cici, saya yang akan membantu kamu selama di Jakarta ini. Jika ada sesuatu silahkan tanyakan langsung kepada saya.” (senyum centil dan genit)
Aab                        : “oke, terima kasih” (tersenyum dengan gaya cool nya)
Cici                         : “ini jadwal latihan dan pertandingan kamu(member kertas) ini untuk jadwal kamu sebulan kedepan. Silahkan tanda tangani kontrak ini” (member berkas dan pena)
Aab                        : “baik, terima kasih mbak”
Cici                         :” terima kasih melulu dari tadi,oh ya jangan panggil saya mbak , panggil nama sajabiar lebih akrab” (tersenyum)
Aab                        : “oke mba, uupps cici masudnya, hehe”
Cici                         : “ada yang ingin di tanyakan?”
Aab                        :”oh tidak, saya rasa cukup”
Cici                         :”oh ya, selama kamu terikat kontrak kamu dilarang pergi kemanapun, apalagi ke kampung halamanmu.”
Aab                        :”baik”

Narrator               : setahun berlalu. Aab kini sudah menjadi pemain yang sangat terkenal. Berbagai iklanpun telah di bintanginya, hingga suatu saat di apartementnya Aab di temui Ibu da Tiara.
Tiara                      :(mengetuk pintu)
Aab                        :”sebentar…! Tiara!”
Tiara                      : “iya ini aku Tiara bersama Ibumu”
Ibu                         :”iya nak, ibu kangen sekali dengan mu “ (perasaan kagum dan rindu)
Aab                        :”ngapain kalian kesini? Uang yang aku kirimin kurang?” (dengan sombongnya)
Ibu                         :”tidak nak,,,” (terkejung melihat anaknya seperti itu)
Tiara                      :”kapan kamu pulang Aab?”
Aab                        :”nanti”
Ibu                         :”kapan… apa kesuksesan ini masih kurang?” (menatap wajah anaknya)
Narrator               : tiba-tiba cici datang dengan seorang wartawan
Cici                         : (masuk) “Aab…!”
Fahri                      : “dimana kita bisa melakukan wawancara” (sopan dan terkagum)
Cici                         :”di dalam saja, ayo masuk masuk”  (membuka pintu)
Narrator               : cici dan fahri tersentak kaget ketika melihat wanita paruh baya dan perempuan yang berada di depannya
Cici                         :”Aab ! siapa ini, bukannya saya sudah bilang kalau hari iniada jadwal wawancara dan kamu tidak boleh memasukkan siapapun kesini” (dengan nada yang kesal dan marah)
Aab                        :”masalah ini biar aku yang urus Ci (dengan sombongnya) Ibu, Tiara sebaiknya kalian pulang “ (bicara dengan tegas)
Tiara                      :”tega kamu ab” (langsung pergi)
Narrator               : dengan perasaan sedih Ibu dan Tiara pun pergi tanpa menghiraukan mereka, sementara ibu menangis sambil di peluk oleh tiara Wawancara pun dimulai.
Cici                         :”silahkan mas fahri, kita mulai wawancaranya”
Fahri                      :”baik mas Aab , apa yang anda rasakan setelah mendapatkan kesuksesan ini?”
Aab                        :”tentunya sangat senang, apa lagi saya belum pernah sama sekali merasakan hal yang seperti in” (sok cool)
Fahri                      :”apa rencana anda untuk kedepannya?”
Aab                        :”tentunya menjadi pemain yang profesional dan lebih baik lagi” (mengangkat bahu)
Fahri                      :”bisa anda ceritakan sedikit tentang kehidupan anda?”
Aab                        :”saya memiliki Ibu di kampung, ya itu saja saya kira cukup”
Fahri                      :”hanya itukah? Kenapa Ibu anda tidak anda bawa dan tinggal bersama anda?”
Aab                        :”maaf , bukan urusan anda…!” (keluar)
Cici                         :”maaf mas, tidak usah di teruskan dia memang orangnya seperti itu, sudah lama ia tidak pulang”
Fahri                      :”oh begitu, baiklah terima kasih mbak Cici”
Narrator               : setelah wartawan pulang terjadi perbincangan antara Cici dan Aab.
Cici                         :”Ab, tadi ibu kamu?”
Aab                        :”iya!”
Cici                         :”kenapa kau tidak bilang! Padahal banyak waktu libur yang kamu sia-siakan”
Aab                        :”alah gak penting, uang juga udah aku kirimin tiap minggu, mereka gak mungkin kekurangan kok”
Cici                         :”tapi dia Ibu kamu Ab!”
Aab                        :”ah, capek aku Ibu Ibu Ibu terus, aku mau keluar. Gak usah cari aku.”
Narrator               : keesokan harinya Aab belum pulang
                                Telepon berdering Tiara mengabarkan bahwa ibu Aab sedang sakit keras.
Kring…..!
Cici                         :”hallo…”
Tiara                      :”ya, hallo. Bisa bicara dengan Aab?”
Cici                         :”maaf… Aabnya belum pulang! Ini siapa ya?
Tiara                      :”ini tiara, teman Aab dari kampung, Aabnya kemana ya?”
Cici                         :”gak tau, dari semalem dia belom pulang”
Tiara                      :”yaudah bilangin aja sama Aab kapan dia pulang? Ibunya sakit keras, terima kasih sebelumnya”
Cici                         :”baik” (menutup telepon)
Narrator               : cici langsung berkemas tiba-tiba Aab pulang
Cici                         :”Ab segeralah berkemas, pulanglah kau”
Aab                        :”buat apa?mereka minta duit, kirimkan saja!”
Cici                         :”ibumu sakit keras, pulanglah.”
Aab                        :”apa!!!”
Narrator               : mendengar Ibunya sakit Aab pun langsung ke kampung dengan di temani Cici
                                Sementara di kampung terdengar dari dalam rumah suara batuk keras. Tiara pun langsung masuk kedalam rumah dan melihat ibu sudah berbaring dan menangis
Ibu                         :”tiara tolong sampaikan kepada anakku, sepertinya aku tidak tahan lagi menahan sakit ku ini” (sambil menangis)
Tiara                      :”jangan bicara seperti itu B, Ibu pasti sembuh, ayo bertahanlah Bu.” (sambil sedih dan meyakinkan)
Ibu                         :”sampaikan saja salam ibu kepada Aab ketika ia pulang nanti, terima kasih nak telah menemani ibu selama ini” (sambil terbatuk dan menarik nafas panjang kemudian meninggal)
Tiara                      : (berteriak dan memanggil) “Ibuuu……….!!”
Narrator               : tiba-tiba terdengar suara hentakan pintu
Aab                        : (berteriak) “Ibuuuuu…”
Tiara                      :”Aab…..”
Aab                        :”Ibu kenapa Tiara? Apakah ibu….” (langsung berlari ke kamar  dimana ibu terbaring dan tak bernyawa lagi)
                                   "Maafkan aab ibuu....... (didepan jasad ibunya) maafkan aab. Aab telah salah besar sama ibu..... Bahkan aab pun tak bs memaafkan diri aab sendiri.... maafkan aab buu :'( " (menagis dan meratap)

Cici                         : (berusaha menenangkan Aab) “sudahlah jangan disesali lagi, iklaskan saja Ibumu”

Created by   :
1. Dian Amsari Meilani
2. Rizky Abdiansyah
3. Tiara Febriyanti
4. Wayan Yuni
5. Suci Mayangsari

XII IPS 3 SMA Negeri 15 Palembang t.p 2012/2013 


sekian -__-

selesai baca, silahkan follow blog ini dan follow juga @dianmeilanidian :)

4 komentar: