Seseorang datang padaku bercerita mengenai kisahnya...
"Sahabat, ada yang aneh pada hati ini. Ada seseorang yang selalu berputar di kepalaku, tentunya karena seringnya interaksi, intensitas pertemuan, dan sebagainya. Bagaimana tidak, kami berada dalam satu ruang lingkup yang sama."
"Lantas ?"
"Aku sangat bingung, ketika aku mengetahui ia dekat dengan perempuan lain yang ia sebut adiknya, seketika hati ini bergejolak. Terasa nyeri hingga memancing air mata yang nyaris tak terbendung. Aku sangat bingung. Aku pernah berdoa kepada Tuhan, jika memang ini kebahagiaan yang sampai nanti maka biarkanlah kami seperti ini, namun jika tidak tolong tunjukkan sesuatu yang mampu membuatku menjauh. Beritahu aku siapa dia. Tuhan menjawab do'aku namun diriku curang. tak sportif dengan apa yang ku utarakan sebelumnya. Benar-benar begejolak seolah-olah tidak terima dengan kenyataan yang ada. Menangis dalam kesendirian, ya hanya itu yang kulakukan. Biarlah dinding kamar dan benda lainnya menjadi saksi bisu semua ini. Aku bingung, benar-benar bingung."
Aku penasaran apa sebenarnya yang terjadi,"Inikah yang telah membuatmu risau sahabatku? Apa yang membuatmu yakin bahwa Tuhan benar-benar menjawab doamu?"
Ia menjawab, "Skenario Tuhan memang indah, meski diri sulit untuk percaya. Saat itu ia meninggalkan ponselnya padaku, kemudian ada sebuah pesan masuk dari seorang wanita. Just say 'Hi!'. Hasrat ingin tahuku muncul, tanpa sengaja aku membaca riwayat pesan mereka. Tak sopan memang. Satu demi satu pesan kubaca, intens. Hingga pada suatu pesan berisi ucapan terimakasih dari si pemilik ponsel kepada perempuan itu karena perhatiannya selama ini meski tak mampu untuk dibalas. Kurang lebih seperti itu. Seketika sesak kurasa nafasku, ntahla mengapa ini. Dengan emote ceria si perempuan membalas bahwa mudah membalas segala perhatiannya, cukup mengirimkannya pesan atau menelponnya minimal sekali dalam sehari cukup. Murah sekali perempuan ini, fikirku. Aku langsung menghentikan rasa ingin tahuku, mungkin karena aku tak sanggup jika harus mengetahui lebih dalam lagi. Sekumpulan cairan nyaris tak tertahan di pelupuk mata ini. Kutarik nafasku dalam-dalam untuk menetralkan suasana meski sesak didada tak mampu untuk diredam. Ini cara Tuhan, ya cara Tuhan. Kalimat itu yang selalu kuteriakkan dalam hati untuk meyakinkan diriku, untuk menyadarkan aku agak tak berandai-andai jauh, berharap lebih atau ntah bagaimanapun itu. Mencoba berfikir sepositif mungkin, menjauhkan segala prasangka buruk yang ada. Ketika ia kembali, segera aku serahkan ponselnya dan aku bergegas pergi tanpa sepatah katapun."
"Jadi lelaki itu yang membuatmu begini? apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Menjauhinya mungkin, atau menjaga jarak. Ketikaa melihatnya pasti rasa sesak itu seketika muncul karena teringat sesuatu itu. Menurutmu murahkah wanita itu sehingga mengemis perhatian seperti itu? Atau justru aku memang yang berlebihan menyikapinya, bahkan dia bukan siapa-siapaku?"
"Jujur aku pun bingung, karena aku bukanlah pakar perasaan. Aku tak berhak menentukan pantas atau tidaknya sesuatu yang dilakukan orang lain. Hati manusia siapa yang tahu selain sang Maha yang menciptakannya. Aku tak bisa menyalahkannya kemudian membenarkanmu. Memang hak mu sahabat untuk menilai seseorang, namun ingatlah bahwa setan laknatullah selalu menggoda, selalu berusaha mempengaruhi manusia. Tinggal kau saja, apakah kau akan memilih untuk mengikuti langkah setan tersebut. Menurutku, yang harus kau lakukan yaitu bersederhanalah, berdo'a kepada Tuhan. Baik itu bersederhana dalam bertuturkata, bersikap, dan yang lainnya. Kalau memang nantinya lelaki itu takdirmu, maka sebesar apapun rintangan yang ada Tuhan akan tetap menyatukan. Apabila tidak, maka ikhlaslah melebihi apa yang kau ketahui tentang ikhlas. rencana Tuhan itu baik."
Ia berhenti dari sesenggukan tangisnya, "Sahabat, sesungguhnya hanya engkaulah sebaik-baik manusia tempat berbagi :)"
-Sekian--
"Sahabat, ada yang aneh pada hati ini. Ada seseorang yang selalu berputar di kepalaku, tentunya karena seringnya interaksi, intensitas pertemuan, dan sebagainya. Bagaimana tidak, kami berada dalam satu ruang lingkup yang sama."
"Lantas ?"
"Aku sangat bingung, ketika aku mengetahui ia dekat dengan perempuan lain yang ia sebut adiknya, seketika hati ini bergejolak. Terasa nyeri hingga memancing air mata yang nyaris tak terbendung. Aku sangat bingung. Aku pernah berdoa kepada Tuhan, jika memang ini kebahagiaan yang sampai nanti maka biarkanlah kami seperti ini, namun jika tidak tolong tunjukkan sesuatu yang mampu membuatku menjauh. Beritahu aku siapa dia. Tuhan menjawab do'aku namun diriku curang. tak sportif dengan apa yang ku utarakan sebelumnya. Benar-benar begejolak seolah-olah tidak terima dengan kenyataan yang ada. Menangis dalam kesendirian, ya hanya itu yang kulakukan. Biarlah dinding kamar dan benda lainnya menjadi saksi bisu semua ini. Aku bingung, benar-benar bingung."
Aku penasaran apa sebenarnya yang terjadi,"Inikah yang telah membuatmu risau sahabatku? Apa yang membuatmu yakin bahwa Tuhan benar-benar menjawab doamu?"
Ia menjawab, "Skenario Tuhan memang indah, meski diri sulit untuk percaya. Saat itu ia meninggalkan ponselnya padaku, kemudian ada sebuah pesan masuk dari seorang wanita. Just say 'Hi!'. Hasrat ingin tahuku muncul, tanpa sengaja aku membaca riwayat pesan mereka. Tak sopan memang. Satu demi satu pesan kubaca, intens. Hingga pada suatu pesan berisi ucapan terimakasih dari si pemilik ponsel kepada perempuan itu karena perhatiannya selama ini meski tak mampu untuk dibalas. Kurang lebih seperti itu. Seketika sesak kurasa nafasku, ntahla mengapa ini. Dengan emote ceria si perempuan membalas bahwa mudah membalas segala perhatiannya, cukup mengirimkannya pesan atau menelponnya minimal sekali dalam sehari cukup. Murah sekali perempuan ini, fikirku. Aku langsung menghentikan rasa ingin tahuku, mungkin karena aku tak sanggup jika harus mengetahui lebih dalam lagi. Sekumpulan cairan nyaris tak tertahan di pelupuk mata ini. Kutarik nafasku dalam-dalam untuk menetralkan suasana meski sesak didada tak mampu untuk diredam. Ini cara Tuhan, ya cara Tuhan. Kalimat itu yang selalu kuteriakkan dalam hati untuk meyakinkan diriku, untuk menyadarkan aku agak tak berandai-andai jauh, berharap lebih atau ntah bagaimanapun itu. Mencoba berfikir sepositif mungkin, menjauhkan segala prasangka buruk yang ada. Ketika ia kembali, segera aku serahkan ponselnya dan aku bergegas pergi tanpa sepatah katapun."
"Jadi lelaki itu yang membuatmu begini? apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Menjauhinya mungkin, atau menjaga jarak. Ketikaa melihatnya pasti rasa sesak itu seketika muncul karena teringat sesuatu itu. Menurutmu murahkah wanita itu sehingga mengemis perhatian seperti itu? Atau justru aku memang yang berlebihan menyikapinya, bahkan dia bukan siapa-siapaku?"
"Jujur aku pun bingung, karena aku bukanlah pakar perasaan. Aku tak berhak menentukan pantas atau tidaknya sesuatu yang dilakukan orang lain. Hati manusia siapa yang tahu selain sang Maha yang menciptakannya. Aku tak bisa menyalahkannya kemudian membenarkanmu. Memang hak mu sahabat untuk menilai seseorang, namun ingatlah bahwa setan laknatullah selalu menggoda, selalu berusaha mempengaruhi manusia. Tinggal kau saja, apakah kau akan memilih untuk mengikuti langkah setan tersebut. Menurutku, yang harus kau lakukan yaitu bersederhanalah, berdo'a kepada Tuhan. Baik itu bersederhana dalam bertuturkata, bersikap, dan yang lainnya. Kalau memang nantinya lelaki itu takdirmu, maka sebesar apapun rintangan yang ada Tuhan akan tetap menyatukan. Apabila tidak, maka ikhlaslah melebihi apa yang kau ketahui tentang ikhlas. rencana Tuhan itu baik."
Ia berhenti dari sesenggukan tangisnya, "Sahabat, sesungguhnya hanya engkaulah sebaik-baik manusia tempat berbagi :)"
-Sekian--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar